oleh

Grand Design Hortikultura Dan Pertanian Organik

Jakarta–  Sebagai   salah   satu   negara   tropis dunia yg dilalui lintang khatulistiwa, Indonesia dianugerahi kekayaan alam yang melimpah ruah. Ribuan varietas hortikultura meliputi buah-buahan tropis, aneka sayuran, tanaman hias dan tanaman obat tersedia di negeri berjuluk Zamrud Khatulistiwa ini. Indonesia sangat berpotensi menghasilkan produk-produk hortikultura yang berdaya saing mengisi pasar ekspor dunia. Tak berlebihan jika Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan Indonesia mampu menjadi lumbung pangan dunia 2045.

Direktur Jenderal (Dirjen) Hortikultura Kementan Prihasto Setyanto menjelaskan pihaknya kini sedang menyusun grand design guna memastikan arah Pembangunan Hortikultura 2020-2024 berjalan sesuai target dan tahapan yang jelas. ”Kami ingin pengembangan hortikultura bisa ditata sedemikian rupa agar mampu menjawab tantangan dan peluang mengisi pasar ekspor dunia. Tentunya diperlukan grand design yang lebih progresif untuk mengoptimalkan potensi hortikultura Indonesia. Salah satunya melalui pengembangan kawasan hortikultura berbasis korporasi,”ujarnya di sela kegiatan melepas ekspor bawang merah ke Thailand dan Singapura di Kompleks Pergudangan Marunda Tarumajaya Bekasi, Jawa Barat, Rabu (2/8/2019).

Prihasto menjelaskan, ide awal penyusunan grand design ini dari kegiatan Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera (BEKERJA) yang digagas Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. ”Rakyat miskin diberi paket bantuan 50 ekor ayam, benih sayuran dan benih buah-buahan agar pendapatan mereka meningkat pada jangka pendek, menengah dan panjang” tutur pria yang akrab dipanggil Anton itu.

Sementara itu,  Kementan   menginisiasi   kegiatan pilot project pengembangan kawasan perbenihan jagung berbasis korporasi  petani  pada  2019.  Ini  untuk mewujudkan arahan Presiden Jokowi untuk

membangun korporasi petani.

Direktur Perbenihan Tanaman Pangan, Ditjen Tanaman Pangan Kementan Takdir Mulyadi menjelaskan, penguatan kelembagaan kawasan korporasi tersebut dilakukan melalui pengawalan, pembinaan dan pendampingan dalam teknik produksi benih jagung. Kemudian dengan memberikan bantuan sarana produksi, alsintan, infrastruktur dan akses pasar.

“Bentuk dukungan bantuan yang diberikan ke petani berupa sarana produksi benih sumber, pestisida dan pupuk,” demikian dijelaskan Takdir di Jakarta, Jumat (2/8/2019).

Di lain pihak, Kementan menggalakkan kembali pertanian organik karena diakui mempunyai manfaat ekologis yang lebih bagus. Sistem ini mampu memperbaiki mutu lahan yang terdegradasi akibat penggunaan pupuk anorganik secara terus-menurus. Sistem ini juga menghindarkan dampak kesehatan dan ekologis dari residu pestisida kimiawi sehingga dapat menciptakan masyarakat Indonesia yang sehat dan berkualitas.

“Pada 2015 mencanangkan program 1.000 Desa Pertanian Organik yang juga merupakan salah satu Nawacita Kabinet Kerja RI, dan untuk tanaman pangan targetnya 600 desa padi organik,” ujar Kepala Sub Direktorat Padi Tadah Hujan dan Lahan Kering, Ditjen Tanaman Pangan Kementan Dina.

Salah satu yang telah berhasil berbudidaya organik  ada di Kalimantan Barat (Kalbar), yakni Kelompok Tani Gampang Mulia Desa Sate Lestari Kecamatan Pulau Maya. Heri Muryadi dari Dinas Pertanian Kayong Utara mengatakan, mereka memproduksi beras organik varietas Mentik Wangi untuk beras putih dan beras merah yang sudah sertifikasi pada 2018. “Banyak petani di Kabupaten Kayong Utara yang tertarik untuk bertani organik. Tentunya karena harganya tinggi,” ujarnya. (tim humas)/KEMENTAN

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed