oleh

PERIKANAN : Startup Membangun Jejaring Bisnis Akuakultur

Foto: Windi Listianingsih Minapoli menghubungkan para pelaku usaha perikanan budidaya

 

Akuakultur digital cukup seksi di mata investor karena terkait keamanan pangan.

Bisnis perikanan budidaya memang menggiurkan. Udang saja misalnya, nilai perdagangan dunia mencapai US$24,47 miliar pada 2017, naik dari tahun sebelumnya yang US$20,15 miliar.

Terlebih, suplai udang masih kurang dibandingkan kebutuhan. Udang juga menjadi primadona ekspor Indonesia. Namun, tidak semua orang bisa terjun dalam usaha akuakultur, salah satunya karena informasi yang terbatas. Berawal dari keterbatasan informasi, lahirlah Minapoli. Apakah itu?

 

Jejaring Informasi dan Bisnis

Menurut Rully Setya Purnama, CEO & Founder Minapoli, “pendatang baru” dalam bidang usaha perikanan cukup sulit karena harus mengetahui jejaringnya lebih dulu mulai dari pemasok input budidaya, pendanaan, hingga pasar.

“Jadi ada masalah informasi di situ, terkait produk, event (pameran) perikanan, jasa, SDM (sumber daya manusia), segala macam info perikanan. Kalau kopi, gampang, masuk Tokopedia ada. Tapi kalau perikanan, susah. Belum masalah pendanaan. Makanya kita bikin namanya Minapoli market plus, jadi market place yang plus-plus,” urainya kepada AGRINA.

Minapoli merupakan startup agribisnis yang menyediakan jejaring informasi dan bisnis akuakultur. Perusahaan rintisan ini mengadopsi konsep minapolitan yang diperkenalkan Fadel Muhammad, Menteri Kelautan dan Perikanan 2009-2011.

“Jadi, bikin konsep pembangunan kawasan perikanan terintegrasi dengan prinsip efisiensi, berkualitas, dan akselerasi. Cuma, minapolitan susah diimplementasikan dalam dunia nyata, tapi konsepnya bagus, terintegrasi dalam satu kawasan. Ini konsep yang sama tapi kita eksekusi secara digital atau online. Minapolitan versi online karena itu lebih memungkinkan,” ulas Rully.

Tidak seperti membangun kawasan minapolitan yang harus memikirkan ketersediaan air hingga masalah limbah, konsep minapolitan digital yang diusung Minapoli mengutamakan pertemuan pada pelaku usaha perikanan budidaya dari hulu ke hilir.

“Mina itu ikan, poli itu banyak. Artinya, banyak ikan. Banyak pelaku perikanan, banyak ikan yang diproduksi, dan banyak ikan yang dikonsumsi. Kita teknologi nggak canggih-canggih amat tapi kita membuat orang saling terhubung. Kita harapkan ada sinergi dan kolaborasi,” terang Sarjana Perikanan lulusan IPB ini.

Ide Minapoli muncul tepatnya pada 2013 ketika Rully kesulitan mencari penjual planktonet untuk pembenihan ikan. Saat itu ia bekerja di usaha budidaya kakap putih milik Indomarind.

“Awalnya mau bikin semacam direktori, yellow pages-nya perikanan, karena waktu itu susah banget. Saya bener buka yellow pages untuk kebutuhan perikanan,” terang pria yang sempat bekerja dan menimba ilmu di eFishery itu. Minapoli pun resmi diliris November lalu pada acara Aquatica Asia & IndoAqua 2018 di Jakarta.

 

 

Tiga Spesifikasi 

Minapoli memiliki tiga spesifikasi fasilitas yang ditawarkan, yaitu eventmina, infomina, dan pasarmina. Eventmina berisi informasi seputar acara dan pameran perikanan nasional hingga internasional. “Mau publikasi event, ya masukin saja ke sini (Minapoli), itu bisa nge-link ke website,” imbuh dia.

Infomina untuk berbagi informasi perikanan dari berbagai sumber terpercaya, seperti media massa. Minapoli juga memfasilitasi universitas yang ingin merilis artikel seputar perikanan.

Sementara, pasarmina merupakan marketplace yang menghadirkan informasi sarana dan prasarana produksi, mulai dari alat perikanan seperti auto feeder (pelontar pakan otomatis) dan keramba jaring apung, pakan ikan dan imbuhan pakan, jasa konsultasi, hingga produk hilir, seperti makanan olahan. “

Kita ibaratnya menjadi direktori karena saat ini kita belum melakukan transaksi, lebih ke direktori. Orang bisa cari supplier tapi listing (daftar) ini khusus brand owner (pemilik merek) bukan reseller (pedagang pengecer),” katanya. (AGRINA)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed