oleh

Menyemai Padi di Atas Plastik

Foto: Istimewa Panen padi di persemaian mudah dan tidak merusak perakaran

 

Padi tidak stres, pertumbuhan tanaman terjaga, biaya produksi lebih efisien.

Dengan mengandalkan alas plastik mulsa, menyemai padi sekarang bisa dilakukan di mana saja. Selain menghemat biaya produksi, penyemaian di atas plastik juga memudahkan penanaman padi. Seperti apa caranya?

 

Keunggulan Plastik

Adalah Sudarmanto, petani di Desa Sidomulyo, Kec. Tambancatur, Kab. Kapuas, Kalteng yang telah melakukan penyemaian padi di atas plastik berkat anjuran Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra). Menurut dia, menggunakan metode plastik bisa menghemat biaya pencabutan padi untuk proses pindah tanam.

“Kita memangkas biaya tanam banyak betul kalau semai di plastik. Biaya cabut bisa menghemat 60%-80%. Satu hektar kita cabut sendiri saja sanggup karena tinggal gulung,” jelasnya.

Biasanya pria yang akrab disapa Darmanto ini menghabiskan dana sebesar Rp700 ribu/ha untuk memanen bibit padi di persemaian tanah. Dia juga membutuhkan 7 orang yang bekerja mencabut padi siap semai itu.

“Kalau pakai plastik, untuk motong-motong benih (padi siap semai) dan gulung ke mesin cukup satu orang saja,” ungkapnya saat ditemui AGRINA di Banjarbaru, Kalsel.

Apalagi, padi yang disemai di atas plastik tidak mengalami stres karena perakaran terluka selama proses pencabutan. Padi tinggal diiris sesuai kebutuhan untuk proses tanam manual atau menggunakan mesin transplanter.

Alas plastik juga menghalangi keberadaan rumput yang bisa mengganggu pertumbuhan padi. Selain mudah, penyemaian padi pun bisa dilakukan di mana saja, seperti pekarangan rumah dan dengan berbagai kondisi tanah.

Jadi, tidak perlu lagi khawatir benih padi tidak tumbuh karena kesuburan media tanam terjaga. “Persemaian pakai plastik caranya gampang banget. Bisa di daerah mana saja diterapkan,” ujarnya.

Dia juga hanya menggunakan plastik mulsa sebagai wadah persemaian. Plastik ini umumnya bisa digunakan selama dua musim tanam. “Kalau rusak dipakai sekali. Kadang-kadang ada rumput tumbuh dari bawah, itu yang bikin bisa tembus. Apalagi rumput alang-alang yang keras, itu bisa merusak,” papar pemilik 3 ha lahan sawah itu.

 

Persiapan Media Semai

Sebagai wadah semai, Darmanto menyiapkan plastik mulsa berukuran 1 m x 10 m dengan ketebalan media tanam 2 cm. Ia membuat membuat wadah semai sebanyak 3 baris sehingga total persemaiannya seluas 30-35 m2.

Namun, ulasnya, ukuran wadah ini fleksibel menyesuaikan kebutuhan dan lokasi semai. “Soalnya disesuaikan lahan saya untuk persemaian cuma segitu panjangnya, 10 m. Kalau ada yang punya lahan panjang, sampai 20 m juga bisa,” katanya.

Biaya pembelian plastik pun cukup murah. Satu rol plastik mulsa berukuran sekitar 500 m harganya Rp350 ribu-Rp500 ribu/rol tergantung kualitas. “Yang lumayan bagus itu Rp500 ribu. Itu bisa untuk dua kali semai. Satu rol itu bisa untuk 10 kali tanam,” terang pria yang sudah dua tahun terakhir menerapkan metode semai padi beralas plastik itu.

Setelah menyiapkan plastik sesuai ukuran, Ketua Kelompok Tani Sido Makmur II ini membuat bedengan berukuran 0,9 m x 10 m dan kedalaman 3 cm. Lebar bedengan dibuat lebih kecil daripada ukuran plastik, sedangkan kedalamannya lebih besar daripada media tanam.

Tujuannya, agar media tanam tetap berada di dalam plastik dan tidak keluar terbawa arus air ketika terkena hujan.

Berikutnya, campur pupuk kandang yang sudah matang dengan tanah gembur secara merata lalu tebarkan di atas wadah plastik. Darmanto menggunakan pupuk kandang dari limbah sapi sebanyak 150 kg untuk satu petak wadah semai dicampur sedikit tanah sampai mencapai ketebalan sekitar 2 cm.

Kemudian, tambahkan air hingga macak-macak. “Setelah rata, baru kita tabur benihnya. Tutup dengan abu sekam untuk nutupin benih supaya nggak dimakan burung. Meski nggak ditutup dengan abu, dikasih paranet ya mungkin bisa,” ulas pengguna benih padi varietas Inpara dan Sentani itu.  (AGRINA)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed