oleh

Menanti Calon Pemecah Rekor Dunia

Varietas IF16 berpotensi mengalahkan varietas paling produktif dari China

Rekor dunia produktivitas padi adalah 17,2 ton GKP/ha dari China. Diam-diam petani Indonesia punya yang lebih tinggi lagi. Benarkah?

China mengklaim rekor dunia produktivitas padi dipegang oleh varietas Xiang Liangyou 900, hasil rakitan Prof. Yuan Longping, Sang Bapak Padi Hibrida dari Negara Tirai Bambu itu.

Menurut Xinhuanet, dari luas tanam 0,07 ha di kawasan Provinsi Hebei, China, varietas tersebut menghasilkan produktivitas 17,2 ton gabah kering panen (GKP)/ha.  Sebagai perbandingan, potensi hasil varietas padi rakitan Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi Sukamandi), Subang, Jawa Barat, paling banter 12 ton GKP/ha.

Namun, Dwi Andreas Santosa, Guru Besar Faperta IPB dalam suatu diskusi publik “Sinkronisasi Kebutuhan dan Ketersediaan Pangan Nasional 2019 – 2024” yang digelar Pemuda Tani HKTI beberapa waktu lalu mengungkap kabar menjanjikan.

Andreas yang juga Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) menuturkan, ada varietas hasil karya petani anggotanya yang punya potensi mengalahkan varietas andalan China tersebut.

Tentu ia tak sekadar menyasar target memecahkan rekor dunia, tetapi lebih penting lagi, varietas itu kelak bisa menjadi andalan petani Indonesia untuk meningkatkan produktivitas padi nasional.

 

Hasil Festival Padi

AB2TI, menurut Andreas, beranggotakan ribuan petani kecil yang berada di 87 kabupaten, 15 provinsi di Indonesia. Banyak anggotanya yang senang menyeleksi benih padi untuk ditanam sendiri.

Hasilnya, “Sekarang kami mengoleksi 3.500 galur padi karya petani kecil,” ungkapnya.  Lalu muncullah ide untuk menggelar Festival Padi di Desa Kalensari, Kecamatan Widasari, Kab. Indramayu, Jabar, dengan menggandeng masyarakat desa, para petani, dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat.

Mengawali kegiatan Festival Padi 2019 yang berlangsung April lalu, AB2TI minta para anggota mengirim padi hasil seleksi masing-masing untuk diuji. Terkumpullah 360 varietas dan dari jumlah ini 90 di antaranya menunjukkan keragaman. Ke-90 varietas tersebut lalu ditanam serempak di lahan seluas 9 hektar (ha) di Desa Kalensari pada 15 Januari 2019.

Tanaman tersebut lantas dipanen pada Maret hingga 30 April 2019. “Hasilnya cukup mengejutkan, variasi di antara varietas-varietas karya petani kecil sangat tinggi dengan perbedaan umur panen dari yang super genjah 65 HSS (hari setelah sebar) hingga 116 HSS.

Hasil panen berkisar dari yang terendah 4,02 ton GKP hingga tertinggi 14,06 ton GKP/ha. Hasil diukur bukan berdasar ubinan, tetapi dari total lahan tanam untuk setiap varietas,” papar alumnus Life Science, University of Technology Braunswick, Jerman, itu. (AGRINA)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed