oleh

Harga Biji Kakao Kian Turun, Minta Pemerintah Bantu

Foto: Syafnijal Datuk Sinaro
Pengurus APKI Lampung berfoto bersama Kadis Arief Zamroni dan Kadis Perkebunan Peternakan

Lampung –  Tren penurunan harga jual komoditas pertebunan di Provinsi Lampung tidak saja dialami kopi, tetapi juga biji kakao. Padahal produksi kakao petani terus mengalami penurunan akibat cuaca yang kurang baik, tanaman sudah tua dan serangan penyakit. Untuk itu pemerintah diminta turun tangan membantu petani agar produksi bisa ditingkatkan.

Fajar Sasora, Asosiasi Petani Kakao Indonesia (APKI) Wilayah Lampung ketika dihubungi Agrina-online.com, Minggu (14/7) mengatakan, saat ini harga jual biji kakao kering kualitas asalan di tingkat petani berkisar antara Rp 26 ribu hingga R p30 ribu/kg. Padahal pada pertengahan tahun lalu harga kakao dengan kualitas yang sama mencapai Rp 35 ribu/kg. Terjadi penurunan harga jual hingga hampir 15 persen.

“Banyak sedikitnya penurunan harga jual ini tentu menurunkan gairah petani kakao untuk melakukan pemupukan dan peremajaan tanaman sebagai upaya mendongkrak produksi kakao,” ujar Ketua APKAI Wilayah Lampung masa bakti 2018 – 2023 tersebut. Ia mengakui, tren produksi kakao petani di Provinsi Lampung terus menurun. Penyebabnya, umumnya tanaman sudah tua dan serangan penyakit serta minimnya perawatan dan pemupukan.

Fajar tidak memperoleh info yang valid mengenai penyebab penurunan harga jual kakao. Sebab jika penyebabnya naiknya pasokan biji kakao dari petani, seperti pada kasus kopi, menurut Fajar, tidak terjadi pada kakao. Bahkan menurut pengalamannya, pernah pada saat musim panen raya, justru harga jual biji kakao naik.

Begitu juga soal kurs dolar AS terhadap rupiah, karena kakao merupakan komoditas ekspor, kurs dolar AS terhadap rupiah pada pertengahan tahun ini tidak banyak berubah dibandingkan dengan tahun lalu. Karena itu, Fajar menyebut, soal fluktuasi harga biji kakao sulit diprediksi karena terkait banyak faktor.

Termasuk produksi kakao dari negara produsen lainnya, seperti Pantai Gading, Ghana dan Nigeria di Afrikan dan Brasil. Belum lagi kondisi ekonomi negara-negara Uni Eropa yang merupakan konsumen utama biji kakao dunia.

Fajar pun melanjutkan, yang bisa dilakukan petani, adalah meningkatkan produksi melalui perawatan yang baik dan pemupukan sesuai anjuran serta peremajaan. Untuk peremajaan tanaman, Fajar mengapresiasi dukungan pemerintah daerah, seperti Pemkab Pringsewu yang memberikan bantuan bibit unggul dan teknik sambung samping untuk peremajaan tanaman. “Kami mengimbau Pemkab lainnya memberikan bantuan serupa untuk meningkatkan produksi biji kakao petani,” harap Fajar.

Menurut dia, bibit unggul varietas MCC 02 yang dikembangkan penyuluh swadaya Riswanto di Lampung Timur cocok untuk dataran rendah dan sedang, seperti Lampung Selatan, Pesawaran, Pringsewu, Lampung Utara, Lampung Tengah dan Lampung Timur sendiri.

Sebagai upaya untuk memperkuat posisi petani dalam mengajukan bantuan ke Pemkab, beber Fajar, pihaknya sudah membentuk APKI di sejumlah kabupaten, seperti di Lampung Tengah, Pesawaran, Lampung Timur, Pringsewu, Lampung Selatan, Tanggamus dan Lampung Utara. Ke depan, ia menargetkan untuk membentuk APKI di 8 kabupaten/kota lainnya dalam Provinsi Lampung.

 

Peremajaan Tanaman

Di tempat terpisah Riswanto mengajak petani kakao untuk meremajakan tanamannya  menggunakan bibit unggul MCC-02 yang sudah mulai berbuah pada usia setahun. Pada usia 1,5 tahun produksinya sudah mencapai 1,5 kg/batang dan naik menjadi 2 kg/batang pada usia 2 tahun. Kakao unggul ini dan akan berproduksi optimal hingga usia 12 tahun mencapai 3 hingga 3,5 ton/ha/tahun.

Menurut Riswanto, yang diundang International Cocoa Organization (ICCO) pada Konferensi Kakao Internasional di Berlin, Jerman, tahun lalu, peningkatan produksi dan mutu bisa dilakukan petani untuk meningkatkan pendapatannya dari menjalankan budidaya kakao.

“Dengan harga kakao Rp 30 ribu/kg dan produksi 3 ton/ha/tahun maka dari lahan seluas 2 ha petani akan memperoleh pendapatan rata-rata Rp 4 juta/bulan. Pendapatan sebesar cukup layak bagi keluarga kecil di pedesaan untuk memenuhi kebutuhan makan dan biaya sekolah anak-anak,” ujar Riswanto.

Kecuali itu, Riswanto mengajak rekannya sesama petani untuk melakukan tumpang sari dengan pisang, gamal dan tanaman kayu lainnya yang bisa menghasilkan nilai tambah dan sekaligus berfungsi sebagai penaung.

Apalagi jika menggunakan gamal, yang secara rutin dipangkas dan daunnya bisa digunakan untuk pakan hijauan kambing. Lalu di pohon gamal tersebut bisa pula ditanam cabe jawa sehingga hasilnya bisa berlipat ganda.

Syafnijal Datuk Sinaro – Lampung

(AGRINA.COM)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed